Cara Membeli Saham Emiten BUMN Bagi Pemula

Untuk menambah dan menjaga aset kekayaan jangka panjang, seseorang akan mempertimbangkan untuk berinvestasi. Bermacam cara investasi juga hadir untuk dipilih masyarakat sesuai dengan tujuan dari berinvestasi masing-masing. Contohnya, investasi yang populer di Indonesia adalah deposito, emas, properti, saham, reksa dana, dan peer-to-peer (P2P) lending.

 

Salah satu jenis investasi yang paling populer di Tanah Air adalah saham. Tak sedikit perusahaan yang menawarkan saham mereka kepada masyarakat luas melalui lantai pasar Bursa Efek Indonesia (BEI). Tak terkecuali Badan Usaha Milik Negara atau BUMN dengan emiten yang bersifat terbuka (Tbk).

 

Contohnya, di perbankan, seluruh emiten BUMN Bank yakni Bank Negara Indonesia (BNI), Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Mandiri, dan Bank Tabungan Negara telah tercatat dalam bursa. Selain itu, ada PT Telekomunikasi Indonesia (Telkom) Tbk. yang berkode saham TLKM dan PT Adhi Karya Tbk. berkode saham ADHI yang juga membuka peluang investasi melalui jual-beli saham.

 

Selain yang disebutkan di atas, ada masih banyak lagi perusahaan pelat merah yang menawarkan saham mereka. Sebagai catatan, menurut Direktur BEI Samsul Hidayat dilansir dari Kontan.co.id, saham BUMN telah merepresentasikan hampir 30% dari market cap.

 

Kepala Riset Koneksi Kapital Alfred Nainggolan juga mengatakan emiten BUMN masih menarik untuk dimasukkan dalam portofolio, terutama bagi saham-saham BUMN yang solid, antara harga saham dan fundamental perusahaan. Ia menilai, saham emiten BUMN memiliki risiko yang lebih rendah dibanding saham emiten swasta.

 

Misalnya, ketika emiten BUMN ingin melakukan aksi korporasi, pengawasan yang dilakukan pemerintah jauh lebih kuat. Terlebih saat ini Menteri BUMN Erick Thohir telah melakukan banyak gebrakan untuk memperbaiki kinerja BUMN. Maka otomatis, hal itu akan berpengaruh terhadap kepercayaan masyarakat untuk berinvestasi dengan emiten tersebut.

 

Untuk itu, mari simak apa itu saham dan bagaimana cara terjun ke dunia investasi saham sebagai pemula.

 

Sekilas Seputar Saham

Menurut BEI, saham merupakan bukti kepemilikan suatu perusahaan yang merupakan klaim atas penghasilan dan kekayaan perseroan. Saham merupakan salah satu produk pasar modal yang menjadi salah satu instrumen investasi untuk jangka panjang. Perusahaan yang sahamnya dapat dibeli di Bursa Efek Indonesia disebut Perusahaan Tercatat.

 

Satuan yang berlaku dalam pembelian saham adalah lot, di mana 1 lot berisi 100 lembar saham. Dengan membeli saham perusahaan, maka kita menjadi pemilik perusahaan tersebut, meskipun hanya membeli beberapa lot saja.

 

Dalam setiap investasi tentu punya keuntungan dan risiko yang harus siap dihadapi. Termasuk saham yang merupakan instrumen investasi yang bersifat high risk high return atau memiliki risiko tertinggi namun akan mendulang keuntungan yang tinggi jika harga saham di perusahaan sedang superior.

 

Keuntungan yang akan dirasakan pembeli saham adalah capital gain atau keuntungan dari kenaikan harga. Semakin tinggi harga saham, maka semakin banyak pula keuntungan yang akan diterima oleh pemegang saham. Kemudian, trader juga akan mendapatkan dividen atau pembagian keuntungan dari perusahaan. Dividen dibagikan dari sejumlah laba bersih perusahaan yang dikonversikan menjadi bonus bagi para pemegang saham.

 

Sementara untuk risikonya, pemegang saham akan mengalami capital loss. Itu berarti perusahaan sedang mengalami kerugian akibat penurunan harga saham. Maka kerugian tersebut juga akan berdampak kepada para pemegang saham. Selain itu risiko juga mengintai pemegang saham yang membeli saham di perusahaan yang sedang di ujung tanduk. Jika perusahaan menyatakan pailit atau bangkrut, maka saham akan dilikuidasi sehingga pemegang saham akan mengalami kerugian besar.

 

Untuk menghindari risiko-risiko tersebut, dibutuhkan juga skill atau kemampuan untuk memilah dan memilih saham mana yang aman untuk dibeli. Untuk itu, yuk, simak langkah-langkah membeli saham, terutama perusahaan pelat merah atau BUMN.

 

  1. Persiapkan Dana yang Cukup

Untuk memulai investasi saham, investor pemula telah menyiapkan dana yang dikhususkan untuk investasi, bukan dana penting seperti untuk kebutuhan pokok. Hal ini disarankan agar investor lebih mementingkan kebutuhan sehari-hari dibanding investasi, apalagi saham.

 

Perlu diingat juga, investasi saham memiliki risiko besar, sehingga pemula sebaiknya mulai dari jumlah dana yang kecil dulu. Hal ini untung menghindari adanya kerugian dalam pembelian saham. Sehingga kalau terjadi penurunan harga di pasar saham, maka investor tidak akan mendapat kerugian yang besar.

 

  1. Buka Rekening Efek

Seperti halnya menabung di bank, berinvestasi saham juga memerlukan sebuah rekening untuk transaksi jual belinya. Rekening efek merupakan rekening transaksi jual beli efek yang akan dibayarkan/diterima secara tunai pada saat jatuh tempo. Untuk membuka rekening efek, investor bisa mendatangi perusahaan-perusahaan sekuritas. Ada puluhan sekuritas yang bisa dipilih sesuai kebutuhan dan daerah domisili investor.

 

Dilansir dari Tirto.id, saat akan membuat rekening efek, calon investor perlu membawa fotokopi KTP, NPWP dan halaman depan buku tabungan serta menyiapkan materai Rp6000 minimal 2 buah. Setelah itu, calon investor harus menyetorkan dana ke rekeningnya. Setiap perusahaan sekuritas memiliki ketentuan nilai deposit dana investasi saham yang berbeda-beda.

 

Jika sudah memegang rekening efek, investor secara resmi telah bisa melaksanakan transaksi jual beli saham, termasuk yang dilakukan secara online. Lebih amannya, investor pemula dapat belajar dan berkembang dengan mengikuti program “Yuk Nabung Saham” yang dibuat oleh PT Bursa Efek Indonesia (BEI), OJK, KPEI dan KSEI. Di dalam program gratis itu juga terdapat daftar lengkap perusahaan sekuritas yang sudah tepercaya dan resmi beroperasi sesuai pengawasan.

 

  1. Baca Tren Perusahaan dan Sahamnya

Memiliki rekening saham tidak serta merta membuat transaksi lancar jaya. Investor harus bisa membaca sendiri situasi pasar saat ini. Tak hanya situasi pasar saham, tapi ekonomi secara luas. Misalnya bagaimana kondisi perekonomian saat ini, apakah berdampak sangat besar bagi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), dan bagaimana kinerja perusahaan yang sahamnya dibidik.

 

Pemahaman terhadap situasi ekonomi juga harus dibarengi dengan pemahaman investor soal lini bisnis perusahaannya. Misalnya investor memang membidik saham dari perusahaan konstruksi yang memang investor tertarik dengan produknya, seperti Adhi Karya, Waskita Karya, PT PP. Hal ini harus diperhatikan untuk membantu investor memahami pasar dan trennya.

 

Investor juga bisa membidik saham perusahaan yang namanya sedang naik. Misalnya, ketika artikel ini ditulis, pandemi Covid-19 menekan banyak sektor bisnis. Namun, di saat seperti ini, perusahaan farmasi tengah berkinerja baik karena tuntutan kebutuhan alat-alat kesehatan. Misalnya, PT Kimia Farma yang April lalu mengalami lonjakan harga saham. Menjadi kesempatan investor untuk menanam saham di sana, sambil tetap melihat tren pasarnya.

 

Setelah melihat dan merinci saham perusahaan mana yang dibidik, investor juga harus memperhatikan PE atau rasio harga per lembar saham dibagi pemasukan bersih per lembar. Pilihlah saham dengan rasio PE yang rendah. Tidak ada ketentuan seberapa besar atau kecil batas nilai PE yang harus Anda pilih, karena hal ini harus dibandingkan dengan PE produk serupa. Inilah pentingnya memiliki wawasan terhadap produk lain yang serupa dengan saham yang Anda pilih untuk investasi.

 

  1. Bermain Saham Online

Di era digital seperti ini, beberapa perusahaan sekuritas sudah memfasilitasi para investor untuk bertansaksi secara online di berbagai jenis gadget. Sehingga tidak perlu repot-repot lagi untuk mengunjungi kantor sekuritas maupun gedung BEI. Apalagi di tengah pandemi yang mengharuskan masyarakat untuk meminimalisir kegiatan di luar rumah.

 

Berikut daftar sebagian perusahaan sekuritas penyedia sarana bermain saham online dan mobile:

 

  • BNI Sekuritas menggunakan aplikasi Bions dan e-Smart
  • Mandiri Sekuritas menggunakan aplikasi MOST
  • Bahana Sekuritas menggunakan aplikasi Direct Trading
  • Danareksa Sekuritas menggunakan aplikasi Danareksa Online (TradePro, WebTrade, Mobile)

 

  1. Pantau dan Analisa Pergerakan Saham

Setelah membeli saham dari suatu perusahaan, investor harus mengikuti perkembangan pergerakan harga saham di bursa. Investor juga harus paham bagaimana analisis teknikal bekerja dalam pasar saham.

 

Analisis teknikal ini dilakukan dengan mengamati naik-turunnya harga saham di suatu rentang waktu tertentu dan informasi soal titik terendah dan tertingginya. Makanya, penting bagi investor untuk memahami profil dan tingkat likuiditas perusahaan, fluktuasi di IHSG, tren market, return of equity (laba dari investasi), data penjualan dan Earning per Share (EPS) Growth.

 

Kendati begitu, investor juga diimbau untuk tidak terlalu sering mengecek fluktuasi harga saham. Hal ini diingatkan agar tidak mengganggu aktivitas pokok inbestor sekaligus menjaga psikologinya, karena harga saham mampu menguras pikiran. Tetap berinvestasi, tapi juga harus tetap sehat jiwa dan raganya.

 

Itulah sejumlah saran yang bisa BUMNInfo sampaikan untuk para investor yang baru berkecimpung dalam dunia bursa. Tetap berhati-hati dalam setiap pundi yang dikeluarkan untuk investasi, agar kelak investor mampu mendulang banyak keuntungan dari saham yang ditanam.

 

 

Sumber: Tirto.id, Kontan.co.id

Foto: JIBI/Abdullah Azzam



POST TERKAIT