Peran Penting BIM Pada Konstruksi

Semakin kompleksnya proses konstruksi saat ini menyebabkan banyaknya terjadi konflik (dispute) antar stakeholder terkait apa yang dikerjakan di dalam proyek tersebut. Hal ini kemudian menyebabkan banyak hal terbuang sia-sia dan menjadi mubazir seperti waktu, biaya, material, SDM dan sebagainya. Seiring perkembangan dan inovasi teknologi, muncullah Building Information Modeling (BIM) sebagai suatu alat bantu yang digunakan untuk menangani masalah-masalah tersebut dan memudahkan proses konstruksi itu sendiri.

Building Information Modeling (BIM) adalah suatu konsep teknologi berbasis model 3D yang berisikan semua data dan informasi tentang objek sebenarnya dari model tersebut. Jadi, BIM bukanlah suatu aplikasi ataupun perangkat lunak (software). BIM merupakan suatu proses digitalisasi dari proyek atau pekerjaan konstruksi, mulai dari menciptakan 3D model (bangunan secara virtual) meng-input semua informasi bangunan tersebut, hingga memanfaatkan model dan informasi-informasi tersebut sebagai sarana komunikasi bagi semua pihak yang terkait di dalam proyek.

BIM dapat memberikan visualisasi nyata tentang apa yang akan dibangun beserta dengan semua informasi di dalamnya, sebelum diimplementasikan secara nyata di lapangan. Dengan demikian, segala bahasan terkait dalam proses konstruksi dapat dibahas dan diselesaikan di awal serta menjadikan proses konstruksi menjadi lebih efektif dan efisien.

 

Latar Belakang

Sebelum ada BIM, semuanya masih dilakukan dengan cara yang paper-based dan banyak hal yang akhirnya menjadi sia-sia karena terdapat perubahan-perubahan yang terjadi sepanjang proses konstruksi. Kemudian pada tahun 1975 lahirlah konsep BIM, namun masih terbatas dalam konsep 3D model. Konsep ini lalu diprediksi akan mampu membuat proses kerja konstruksi menjadi lebih baik. Lalu pada tahun 2003, Amerika Serikat melakukan beberapa pilot project yang mulai mengimplementasikan konsep teknologi BIM ini. Dimulai dari inisiasi tersebut, penggunaan dan implementasi BIM di dunia konstruksi akhirnya semakin meningkat sampai saat ini.

 

Hal-Hal Penunjang Aplikasi BIM

Sama halnya dengan aplikasi teknologi pada umumnya, sumber daya manusia memegang peranan penting dalam hal ini. Karena kitalah yang kemudian bersentuhan langsung dengan teknologi ini. Pada dasarnya, teknologi ini hadir bukan untuk menggantikan sumber daya manusianya itu sendiri. Tapi teknologi ini hadir untuk membantu pekerjaan manusia agar menjadi lebih baik, efektif, dan efisien. Jadi, BIM mengajak SDM-nya untuk dapat berkompromi dengan teknologi, bukan hanya untuk meningkatkan kualitas kerja, tapi juga meningkatkan nilai pribadi dari masingmasing SDM.

Selain itu, sebagai penunjang lainnya sudah tentu juga dibutuhkan spesifikasi perangkat keras yang memadai dan penggunaan perangkat-perangkat lunak yang tepat. Peran data teknologi di sini sangatlah penting, karena hal itulah yang kemudian dijadikan suatu alat komunikasi untuk mengnyinergikan semua stakeholder terkait pada sebuah proyek. Semuanya terintegrasi pada data teknologi, yang dapat dengan mudah diakses oleh semua orang, untuk kelancaran proses komunikasi dan birokrasi.

 

Kekurangan dan Kelebihan BIM

Dilihat dari sisi keuntungannya, kita dapat selalu berinovasi untuk menghasilkan bangunan yang lebih kompetitif tanpa mengorbankan kualitas, karena biaya dapat kita prediksi sebelum pelaksanaan pembangunan. Dengan sistem koordinasi dan kolaborasi antara pihak yang terkait proyek, maka komunikasi dan proses pengambilan keputusan menjadi lebih mudah, sehingga mempercepat pelaksanaan proyek. Bangunan yang ramah lingkungan dan hemat energi pun dapat dihasilkan.

Sedangkan, kekurangan menggunakan BIM adalah tentunya dari segi biaya. Dibutuhkan biaya yang tidak sedikit cenderung mahal untuk mempersiapkan perangkat keras dan perangkat lunak yang akan digunakan. Selain itu, penggunaan BIM juga harus ditunjang dengan pelatihan-pelatihan yang tidak sebentar untuk memberikan penjelasan wawasan BIM ke seluruh pekerja, sekaligus mempersiapkan para user-nya.

 

Peran BIM di Tiap Fase Konstruksi

Secara garis, besar tahapan proyek konstruksi dapat dibagi menjadi lima tahapan yaitu Perencanaan, Perancangan, Pengadaan/Pelelangan, Pelaksanaan/ Konstruksi, dan Operasi dan Pemeliharaan. Peranan BIM di masing-masing tahapan adalah sebagai berikut:

  1. Tahap Perencanaan BIM dapat digunakan mulai dari kegiatan pembuatan desain konsep dari proyek yang dikerjakan. Desain konseptual ini bukan hanya berupa gambar sketsa melainkan sudah berbentuk model 3D dari rencana bangunan yang akan dibangun. Pemodelan ini dibuat berdasarkan data dari hasil studi kelayakan, survei lokasi, dengan menggunakan photogrammetry yang dapat menghasilkan model 3D dari lokasi rencana proyek, keadaan lingkungan, dan sebagainya.
  2. Tahap Perancangan Model yang sudah dihasilkan pada perencanaan akan dievaluasi lalu dibuat pendetailan dari model tersebut. Dari pemodelan detail itu dilakukan perhitungan-perhitungan detail baik struktural maupun non-struktural, sehingga akan didapatkan desain yang paling efektif dari hasil perhitungan itu. Desain ini kemudian diterjemahkan menjadi model dan data-data yang dibutuhkan untuk fase berikutnya seperti kuantitas material serta estimasi biaya.
  3. Tahap Pengadaan/Pelelangan BIM dapat dimanfaatkan oleh peserta lelang sebagai alat bantu untuk mengestimasi harga penawaran dari proyek tersebut. Karena dengan BIM, hal-hal seperti menghitung kuantitas material, pekerjaan, pembuatan BOQ, dan analisa harga satuan, dapat dilakukan secara detail dengan visualisasi dari model. Sehingga akan tergambar dengan jelas pekerjaan yang akan dilakukan di lapangan nantinya.
  4. Tahap Pelaksanaan/Konstruksi Model dan data-data yang sudah dihasilkan di fase sebelumnya akan dengan mudah dimanfaatkan sebagai dasar pelaksanaan proyek di lapangan. Karena secara tidak langsung, kontraktor sudah membuat proyek tersebut secara nyata dengan seluruh data yang dibutuhkan, walaupun masih dalam bentuk digital. Pada fase konstruksi ini sendiri, BIM berfungsi sebagai suatu alat untuk memastikan apa yang dikerjakan di lapangan sesuai dengan apa yang sudah direncanakan. Dari model dan data di dalam BIM, kontraktor dapat membuat metode pengerjaan yang efektif, menghasilkan shop drawing, serta menghindari adanya benturan instalasi antar disiplin (clash) yang dapat mengakibatkan pengerjaan ulang. Pekerja di lapangan juga dapat mempelajari desain dengan melihat BIM Model, memonitor progres pekerjaan berdasarkan kondisi di lapangan dengan rencana yang sudah diintegrasikan antara model dan jadwal proyek, dan apabila proses konstruksi dilakukan dengan berdasarkan BIM, maka tidak ada lagi yang kita sebut sebagai as-built drawing, karena akan beralih menjadi as-built model.
  5. Tahap Operasi dan Pemeliharaan Dengan menggunakan as-built model yang sudah dibuat, informasi mengenai data operasional dan pemeliharaan bisa ditambahkan ke dalamnya untuk keperluan pemilik proyek atau manajemen gedung pengoperasian dan pemeliharaan bangunan tersebut.

 

Rizki Raditya, Departemen CSIT PT Adhi Karya (Pesero) Tbk


POST TERKAIT