Melayani Dengan Seni

 

Keberhasilan PT Kereta Api Indonesia (Persero) dalam meluncurkan berbagai inovasi tidak lepas dari kerja keras para pegawai dan kepemimpinan yang cemerlang. Salah satu tokoh yang berperan dalam perencanaan serta eksekusi inovasi-inovasi tersebut adalah Apriyono Wedi Chresnanto, PYMT Direktur Komersial dan Teknologi Informasi KAI. Kali ini, OnTrack mendapat kesempatan berbincang dengan Bapak Apriyono di sela jadwalnya yang padat berkenaan dengan tahun inovasi KAI.

Mengapa tahun 2018-2019 dijadikan tahun inovasi oleh KAI?

Inovasi merupakan tuntutan dari konsumen, kami ingin memberikan pelayanan yang lebih baik dan kemudahan bagi pelanggan. Dari situlah muncul inovasi-inovasi yang sebenarnya sudah dimulai bahkan sebelum pencanangan tahun inovasi pada bulan September lalu. Inovasi pertama di tahun ini adalah kereta sleeper yang diluncurkan sebagai angkutan lebaran. Kereta sleeper ini tujuannya ingin memberikan pilihan bagi konsumen. Ini lho ada kereta sleeper yang lebih nyaman. Selain itu kami juga membeli 438 kereta baru dari PT INKA yang akan digunakan untuk mengganti kereta yang sudah berusia lebih dari 30 tahun, demi keamanan dan keselamatan penumpang. Waktu ulang tahun KAI di bulan September, kami juga launching KAI Access yang baru, Rail Cargo System, Komik Si Loko, dan prangko kereta api. Sekarang penggunaan KAI Access untuk tiket kereta lokal baru diterapkan di Bandung. Ada juga rencana e-wallet yang segera running sehingga memudahkan konsumen bertransaksi dalam KAI Access. Inovasi-inovasi ini pastinya akan terus berlanjut, tidak terbatas di tahun ini saja.

Apa yang menjadi motivasi KAI dalam menciptakan inovasi?

Selain memang ada rencana KAI untuk membuat inovasi-inovasi baru, masukan pelanggan menjadi sumber semangat untuk mewujudkan inovasi tersebut. Kami berterima kasih kepada pelanggan kereta api. Dengan adanya masukan, kami jadi tahu kekurangan kami apa. Kami rutin mengadakan pertemuan atau gathering dengan komunitas pencinta kereta api. Contohnya saat sosialisasi KAI Access, ada ngopi bareng dengan komunitas pencinta kereta api. Dari situ, ternyata penggunanya bertambah. Dengan bertambahnya pemakai KAI Access, pasti ada masukkan. Masukan itulah yang kami olah. Kenapa masih mesti ke stasiun untuk merubah tiket, dan sebagainya. Komplain itu membangun, kami tidak melihat itu dari sisi yang negatif.

 

Sudah puluhan tahun bekerja di KAI, bagaimana suka dukanya?

Kerja di kereta api yang penting ada jiwa melayani. Duka yang dirasakan mungkin sebab jarang kumpul dengan keluarga, karena keluarga saya tinggal di Semarang, sementara saya berkantor di Bandung, dan kadang ke Jakarta jika ada agenda. Kalau tugas di kereta api tidak ada yang diam di satu tempat. Tapi sebenarnya kita jadi punya banyak keluarga. Penumpang kereta api juga sebenarnya termasuk keluarga kita. Sukanya, kerja di kereta api itu banyak seninya.

 KAI 2

Seni seperti apa yang Bapak maksud?

Seninya adalah mengajak dan merubah perilaku masyarakat. Contoh, dulu masih ada penumpang yang naik ke atap kereta, kemudian toilet dipakai untuk penumpang yang tidak mendapat kursi atau banyak yang tidur di lantai kereta. Dulu saya menyaksikan hal-hal itu karena saya pernah berada di jajaran direksi KRL (Kereta Rel Listrik). Tapi sekarang sudah tidak ada lagi seperti itu. Artinya apa? Sebetulnya masyarakat Indonesia bisa diajak berubah. Sebenarnya sampai saat ini saya masih sulit percaya dan takjub melihat stasiun kereta bisa sangat berubah seperti sekarang. Orang bisa mengantri dengan baik dan tertib. Dulu banyak yang mengatakan kalau susah untuk berubah, tapi ternyata bisa. Contoh lain adalah menghadapi isu jalur kereta yang belum steril. Misalnya banyak pelemparan batu, yang ditangkap untuk kasus pelemparan itu rata-rata anak-anak. Cara mengatasinya juga seni tersendiri. Kita harus panggil orang tuanya, masuk ke sekolah, langsung terjun ke masyarakat dan memberi edukasi. Ini lho kalau kamu berbuat seperti ini, nanti akibatnya akan seperti ini. Meski sekedar iseng, tapi dampaknya sangat berat.

Apa harapan Bapak untuk PT KAI?

Harapannya KAI semakin maju dan melayani lebih baik. Menurut saya yang utama adalah integritas, pelayanan, keselamatan. Perusahaan yang besar harus punya integritas. Saya yakin KAI akan semakin besar. Meski ada kompetitor, pasti akan terbentuk pasar sendiri-sendiri, intinya pelayanan jangan ditinggalkan. Kami senang ada kompetitor, karena masyarakat bisa memilih, dan kita bisa melihat pelayanan yang bagus dan disukai masyarakat seperti apa. Bagi saya yang penting jangan mengeluh. Kita mengerjakan apa yang menjadi tanggung jawab kita. Dengan adanya masukan, kami jadi tahu kekurangan kami apa.



POST TERKAIT