Ada Apa Dengan Job Safety Analysis

Zaman memasuki industri 4.0, maka ditemukan fakta pada 2020, perusahaan industri Eropa akan berinvestasi 140 miliar euro setiap tahun dalam solusi internet Industri, dalam lima tahun kedepan-lebih dari 80% perusahaan akan mendigitalkan seluruh bisnis prosesnya, revolusi industri 4.0 meningkatkan produktivitas dan peningkatkan efisiensi 18% dalam lima tahun. Namun saya berpikir, jika era industri ini berjalan lancar pasti saja ada pekerjaan yang sifatnya tidak bisa digantikan dengan solusi internet industri, contohnya saja jika melihat di Negara berkembang yang dimana-mana ada pembangunan, maka pekerjaan konstruksi tidak bisa digantikan dengan pen digitalisasian seluruh proses bisnisnya. Singkat kata, harus manual, dan disinilah hubungan antara manusia dan potensi kecelakaan sangat erat kaitannya. Dimanapun dan kapanpun.

 

Pekerjaan yang dilakukan oleh manusia berpotensi besar terjadi kecelakaan jika tidak ada langkah preventif, salah satunya adalah JSA. Singkatan dari apa JSA itu?. JSA adalah Job Safety Analysis yang memiliki definisi teknik manajemen keselamatan yang berfokus pada identifikasi bahaya dan pengendalian bahaya yang berhubungan dengan rangkaian pekerjaan atau tugas yang hendak dilakukan. Teknik ini disebut sebagai langkah preventif untuk mengantisipasi terjadinya kecelakaan.

 

Lalu bagaimana cara menggunakan teknik ini?,mari kita simak bersama-sama:

1. Mengkomunikasikan kepada seluruh divisi pekerjaan tentang JSA, pentingnya JSA, dan teknik pengisian JSA. Sebuah program tidak akan diperhatikan dengan baik oleh semua orang dalam organisasi jika tidak disosialisasikan terlebih dahulu secara terstruktur, sistematis dan masif.

2. Rincikanlah langkah-langkah pekerjaan dari awal hingga pekerjaan selesai. Merincikan pekerjaan wajib secara detail dan spesifik, contoh Jenis pekerjaan konstruksi, detail pekerjaan adalah memasang scaffolding. Apabila pekerjaan tersebut dilakukan di hari berikutnya di area berbeda, maka wajib lagi dibuat JSA yang baru, sebab apabila lain tempat maka lain pula jenis risiko bahayanya.

3. Pilihlah pekerjaan yang akan dianalisis. Apa yang dianalisa?, penjelasannya sebagai berikut: pekerjaan dengan tingkat kecelakaan kerja atau PAK (Penyakit Akibat Kerja) tertinggi, pekerjaan yang berpotensi menyebabkan cidera serius, pekerjaan yang tidak ada riwayat kecelakaan sebelumnya, pekerjaan yang di mana satu kelalaian kecil jika dilakukan pekerja dapat menyebabkan kecelakaan fatal atau cedera serius, setiap pekerjaan baru atau pekerjaan yang telah mengalami perubahan proses dan prosedur kerja, pekerjaan yang cukup kompleks dan membutuhkan instruksi tertulis.

4. Tentukan langkah pengendalian berdasarkan bahaya pada setiap langkah-langkah pekerjaan yang ditulis.

5. Supervisor diharuskan untuk mendiskusikan JSA kepada para pekerja yang terlibat. Tujuannya agar terjadi satu pemahaman yang sama tentang potensi bahaya yang berada di tempat kerja.

6. JSA wajib di isi oleh pekerja bersangkutan atau diwakili oleh mandor namun dengan catatan setelah pengisian wajib didiskusikan kepada seluruh pekerja.

Apabila sudah melakukan tahap-tahap di atas maka supervisor dan mandor wajib melaksanakan monitoring pekerjaan. Apabila ditemui temuan yang tidak sesuai dengan isi JSA, maka disegerakan untuk dilakukan tindakan quick response dengan berkoordinasi pada mandor dan pekerja. Kalau perlu dilakukan proses pemberhentian pekerjaan jika ditemui potensi bahaya yang cukup serius menimbulkan korban. Kemudian setelah pekerjaan telah usai, perlu diagendakan kegiatan evaluasi untuk memberikan masukan kepada hal-hal yang dirasa kurang dan perlu perbaikan. Semoga bermanfaat dan salam selamat.

Penulis: RIZKI WIBISONO

Staf HSSE PT Pelabuhan Indonesia III (Persero)

 



POST TERKAIT