Transformasi Bisnis Pos Indonesia

Pasang surut mewarnai perjalanan panjang dua setengah abad PT Pos Indonesia (Persero). Pos Indonesia yang merupakan salah satu BUMN tertua di Indonesia ini menjadi salah satu perusahaan jasa dengan jaringan distribusi terbesar di Indonesia yang layanannya tersebar di 24.000 titik.

 

Masa-masa kejayaan perposan sendiri ada pada periode 1970 hingga 1980-an. Namun, Pos Indonesia mengalami penurunan kinerja usahanya di tahun 2000 – 2008. Bisnis surat pos pada periode tersebut mengalami penurunan drastis. Maraknya layanan pesan singkat (SMS) melalui ponsel dan internet telah menggantikan peran surat pos individu. Demikian juga persaingan kiriman barang dengan para perusahaan kurir swasta membuat pangsa pasar Pos Indonesia tergerus. Keadaan tersebut memaksa Pos Indonesia untuk berubah dan melakukan transformasi bisnis. 

pos-indonesia 1

 

Pada tahun 2009, Pos Indonesia mulai menyusun visi dan misi baru serta perencanaan jangka panjang untuk membangun kompetensi perusahaan agar lebih adaptif terhadap perkembangan zaman. Terdapat tiga jalan transformasi yang ditempuh Pos Indonesia diantaranya adalah membentuk revitalisasi bisnis inti, holding company, dan mengembangkan bisnis-bisnis baru. 

 

Transformasi perusahaan ini sejalan dengan berbagai hasil riset dan kajian konsultan internasional seperti Booz & Co dan Ernst & Young yang menunjukkan potensi bisnis Pos Indonesia masih terbuka lebar. Hal ini diperkuat dengan kajian Management Research Center UI yang menyebutkan Pos Indonesia memiliki potensi besar di tiga bisnis intinya, yaitu bisnis surat dan paket, bisnis logistik, dan bisnis jasa keuangan.  Untuk lebih fokus dalam menghadapi persaingan yang semakin ketat, Pos Indonesia juga membentuk perusahaan induk yang memayungi sejumlah anak perusahaan, antara lain yaitu PT. Pos Logistik Indonesia, PT. Pos Properti Indonesia, dan PT. Bhakti Wasantara Net.

Fokus bisnis Pos Indonesia tidak lagi hanya pada bisnis surat, paket dan jasa keuangan, tetapi juga mengoptimalkan sumber-sumber bisnis baru. Pos Indonesia mulai merambah ke bisnis logistik, bisnis ritel hingga properti, dan asuransi. 

Masing-masing anak usaha Pos Indonesia mulai mengembangkan bisnisnya sesuai bidangnya sendiri diantaranya ada PT Pos Properti Indonesia yang sejak Desember 2013 lalu melayani bisnis jasa pengelolaan dan penyewaan perkantoran hingga ruang MICE (Meeting, Incentive, Convention, and Exhibition). 

PT Bhakti Wasantara Net (BWN) yang menyediakan layanan transaksi keuangan, juga melakukan kerja sama dengan perusahaan-perusahaan teknologi finansial (fintech) pinjaman digital (P2P Lending), maupun perbankan untuk memberikan scoring kepada perusahaan yang bekerja sama dengan mereka.

"Kami berikan rekomendasi kredit scoring. Sehingga kami mainnya di big data," ujar Gilarsi Wahyu Setijono selaku Direktur Utama Pos Indonesia 

Pos-Logistik 1

Sementara, anak usahanya yang lain yaitu PT Pos Logistik juga tengah melakukan kerjasama dengan Kementerian Perdagangan untuk membantu mempromosikan produk-produk UKM di setiap gerai PT Pos dalam lingkup domestik. Diharapkan kedepannya PT Pos Logistik Indonesia akan membantu para pelaku UKM untuk go ekspor.

 

Selain itu, PT Pos juga menggandeng beberapa BUMN untuk memperkuat struktur bisnisnya. Di tahun 2016, Pos Indonesia menandatangani perjanjian kerja sama sinergitas dengan lima BUMN untuk meningkatkan kinerja dan pengembangan bisnisnya. Penandatanganan kerja sama tersebut dilakukan PT Pos Indonesia dengan lima kolega BUMN-nya, yaitu Bank Mandiri, PT Bio Farma, PT Kimia Farma, PT Telkom dan PT Pertamina. Menurut Gilarsi, kerjasama sinergitas ini akan memperkuat sektor usaha masing-masing, dan merupakan bagian dari transformasi yang dilakukan di semua lini.

 

Dalam hal jasa keuangan, PT Pos turut menggandeng Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan untuk melayani pembayaran iuran wajib bulanan bagi peserta BPJS mandiri. PT Pos juga mengambil langkah strategis dengan menggandeng salah satu pemain e-commerce terbesar di Indonesia, Lazada. Dalam kerja sama ini, PT Pos Indonesia mempermudah proses pengembalian barang bagi konsumen Lazada Indonesia. 

 

Selain melakukan kerja sama dengan perusahaan lain, Pos Indonesia juga melakukan perbaikan internal yang dilakukan manajemen di setiap lininya. Setidaknya ada empat bidang utama yang menjadi fokus pembenahan, yaitu manajemen sumber daya manusia dan organisasi, sistem keuangan, kapabilitas infrastruktur, dan strategi marketing.

 

Mengantisipasi perubahan zaman seperti diketahui saat ini, bahwa faktor utama pendorong perubahan pada kurir logistik dan jasa keuangan adalah digital. Artinya Pos Indonesia harus merelevankan seluruh aspek bisnisnya dengan cara digital. Meskipun membutuhkan waktu yang lebih panjang untuk membangun ketertinggalan dan menjawab seluruh tantangan bisnis Pos Indonesia di era digital saat ini, namun langkah perseroan bisa dibilang sejalan dalam memacu dapur bisnisnya.





POST TERKAIT