Tahan Harga Pertalite, Apa Strategi Pertamina Hadapi Kenaikan Harga Minyak Dunia?

Jakarta, BUMNInfo | Di tengah harga minyak yang meroket di pasar internasional, PT Pertamina (Persero) memutuskan untuk menahan harga bahan bakar minyak (BBM) Pertalite pada angka normal. Motif dari tindakan ini adalah untuk menjaga daya beli masyarakat yang banyak menggunakan Pertalite.

Kenaikan harga minyak di pasar dunia sendiri diakibatkan oleh memanaskan konflik antara Rusia-Ukraina. Bukan hanya minyak, komoditas energi lain seperti gas dan batu bara pun turut terkena imbasnya. Menariknya, jika dihitung secara keseluruhan, kenaikan harga ini sebenarnya memberi dampak positif pada pendapatan negara, terutama pada Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP). Namun, kewaspadaan pemerintah tetap diperlukan mengingat hal ini juga mempengaruhi anggaran belanja negara yang membengkak.

Rencana Pemerintah

Ke depannya, pemerintah akan meninjau terus kenaikan harga minyak dunia dan mengukur dampaknya terhadap APBN. Dari sana, pemerintah kemudian mengambil kebijakan yang dianggap sesuai dengan mempertimbangkan sisi potensi penerimaan negara, beban terhadap belanja negara, serta konsekuensi bagi pembiayaan anggaran.

Keputusan Pertamina

Pertamina sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bertugas untuk mengolah energi nasional mencoba untuk mempertimbangkan kondisi ekonomi sosial masyarakat sebelum menetapkan harga sebuah produk BBM.

Vice President Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Fajriyah Usman

berpendapat sekalipun harga minyak mentah mencapai US$ 130 per barel, Pertamina terus berkoordinasi dengan pemerintah untuk memutuskan harga Pertalite akan tetap di harga jual Rp 7.650 per liter.

Meski memiliki porsi konsumsi yang terhitung besar, yakni mencapai 50% dari total konsumsi BBM Nasional, Pertalite belum pernah mengalami perubahan harga sejak tiga tahun terakhir ini.

Apa Langkah Pertamina Selanjutnya?

Pertamina mencoba menyiapkan langkah untuk mengurangi tekanan kenaikan harga minyak mentah dunia terhadap peningkatan biaya pengadaan BBM. Salah satunya adalah dengan menekan biaya produksi BBM dalam negeri dan meningkatkan produksi kilang untuk produk bernilai tinggi. Pertamina merasa penggunaan minyak mentah domestik dan gas alam sangat perlu dioptimalkan untuk penghematan biaya energi.

Sampai saat ini, hanya beberapa BBM Non Subsidi seperti Pertamax Series dan Dex Series yang mungkin mengalami penyesuaian harga. Berbeda dengan Pertalite, kedua BBM ini memiliki porsi konsumsi yang terbilang kecil, yaitu 15 persen dari total keseluruhan. Pengguna kedua BBM itu pun sebagian besar berasal dari konsumen mampu dengan kendaraan pribadi menengah ke atas. Penyesuaian harganya akan rutin dipantau mengikuti harga pasar. Hal ini sesuai dengan apa yang tercantum dalam Peraturan Menteri ESDM Nomor 62 tahun 2017.

Tanggapan Terhadap Keputusan Pertamina

Keputusan Pertamina menahan harga Pertalite di angka normal utnuk menjaga daya beli masyarakat dinilai cukup realistis dan tepat jika dilakukan dalam jangka pendek. Namun, menurut Pakar Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede pemberlakukan tindakan ini dalam jangka panjang dianggap  akan sangat membebani anggaran pemerintah.

“Kami menilai, dalam jangka pendek, kebijakan ini dapat dilakukan pemerintah untuk menjaga daya beli, namun tidak untuk kebijakan yang bersifat jangka panjang dan setiap tahunnya harus terus disubsidi,” ujar Joshua.

Dibandingkan dengan badan usaha swasta lain yang beroperasi di Indonesia, harga Pertalite masih menjadi yang termurah karena rata-rata pesaing tersebut menetapkan harga di atas Rp10.000 per liter.

Sumber: katadata.co.id dan suara.com   

Dok: idxchannel.com 

 



POST TERKAIT