Seri AKHLAK - Implementasi PT KAI, dari Membentuk Culture Agent hingga Jalin Banyak Kolaborasi

Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Republik Indonesia resmi memutuskan untuk menyelaraskan seluruh nilai inti atau core values bernama AKHLAK, baik di tubuh kementerian maupun seluruh badan usaha yang dinaunginya, termasuk entitas-entitasnya. Ditandai dengan ditandatanganinya Surat Edaran Menteri BUMN Nomor SE-7/MBU/07/2020 oleh Menteri BUMN Erick Thohir, per 1 Juli 2020. Dari tanggal tersebut hingga sekarang, masing-masing BUMN berikut anak cucu cicitnya berangsur menerapkan core values yang merupakan akronim dari Amanah, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, Kolaboratif tersebut.

 

Salah satunya adalah emiten milik negara yang bergerak di sektor angkutan berbasis rel yakni PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau PT KAI . Komitmen ini ditandai dengan diselenggarakannya peluncuran New Core Values AKHLAK KAI di Pusdiklat Ir H. Djuanda KAI, Kota Bandung, Jumat (14/8/2020). Launching tersebut disaksikan secara langsung oleh ribuan pegawai KAI dan anak perusahaannya di Jawa dan Sumatera melalui aplikasi Zoom dan Youtube.

 

Selain dihadiri oleh jajaran komisaris dan direksi KAI, kegiatan tersebut juga dihadiri Asisten Deputi Bidang Manajemen Sumber Daya Manusia Kementerian BUMN Andus Winarno. Andus mengatakan, nilai-nilai AKHLAK muncul dari keinginan Menteri BUMN Erick Thohir untuk memiliki nilai-nilai utama sebagai identitas keseluruhan di BUMN. Nilai AKHLAK diperoleh setelah melakukan survei di beberapa BUMN. Kemudian semua nilai itu disatukan menjadi satu konsep AKHLAK ini.

 

Diharapkan nilai-nilai ini menjadi acuan kultur budaya di seluruh BUMN sehingga budaya kerjanya menjadi seragam. Tujuannya untuk meningkatkan kinerja yang berkelanjutan, daya saing, dan juga mengharapkan BUMN sebagai pabrik talenta.

 

“Kami harap KAI mampu mengadaptasikan budaya kerjanya dengan nilai-nilai AKHLAK, termasuk dalam bisnis operasional dan pengembangan SDM,” tambah Andus.

 

Penyesuaian dengan Nilai Lama

Ilustrasi insan PT KAI. Foto: dok. Istimewa
Ilustrasi insan PT KAI. Foto: dok. Istimewa

Setelah surat edaran tersebut berlaku, pihak manajemen PT KAI langsung melakukan alignment atau penyelarasan dari nilai-nilai yang sebelumnya sudah ditetapkan menjadi budaya perusahaan. Manajemen menamainya sebagai “5 Nilai Utama” dengan Integritas, Profesional, Keselamatan, Inovasi dan Pelayanan Prima. Pencocokannya dengan AKHLAK bukan perkara yang mudah, sebab terkadang ada nilai budaya perusahaan lama yang tak termasuk dalam poin AKHLAK. Misalnya di KAI sendiri, nilai Keselamatan tak tertuang secara eksplisit dalam core values anyar itu. Apalagi keselamatan memang menjadi kunci utama dalam pelayanan KAI selama ini sebagai moda transportasi masyarakat jarak dekat dan jauh.

 

VP Public Relations PT KAI Joni Martinus bercerita kepada BUMN Info bahwa perumusan 5 Nilai Utama juga sebelumnya dilakukan sesuai dengan spirit dari proses bisnis PT KAI yang mana perusahaan sangat mengedepankan integritas, profesionalisme, keselamatan, inovasi dalam berkarya dan pelayanan yang optimal dalam mendukung pencapaian visi misi perusahaan. Kendati begitu, akhirnya manajemen menyiasati bahwa nilai Keselamatan hanya akan menjadi contoh perilaku yang tertulis di bawah poin Amanah dan Kompeten dalam AKHLAK.

 

“Dalam proses penyelarasan, ditemukan bahwa nilai Keselamatan dalam 5 Nilai Utama masuk dalam nilai Amanah dan Kompeten di core values AKHLAK, karena bila pekerja PT KAI amanah dan kompeten di bidang pekerjaannya, maka faktor keselamatan pun akan terjaga dengan baik. Contoh di salah satu panduan perilaku dari Kompeten yaitu menyelesaikan tugas dengan kualitas terbaik, insan KAI dituntut untuk amanah dalam bekerja yang secara tidak langsung mempengaruhi keselamatan di pekerjaannya,” tutur Joni.

 

Setelah melakukan pencocokan, pihak manajemen melakukan launching New Core Value AKHLAK pada 14 Agustus lalu dan diikuti dengan pembuatan Peraturan Direksi PT Kereta Api Indonesia (Persero) tentang Budaya Perusahaan. Dirumuskannya peraturan tersebut guna memastikan budaya perusahaan yang berlaku dapat mendukung pencapaian visi dan misi serta program internalisasi AKHLAK kepada seluruh pekerja PT KAI.

 

Rutin Lakukan Uji Kompetensi

Ilustrasi insan PT KAI. Foto: dok. Sociolla
Ilustrasi insan PT KAI. Foto: dok. Sociolla

Sudah berjalan lebih dari sebulan, menurut Joni proses adaptasi yang dilaksanakan berjalan dengan sistematis, masif dan terstruktur, melalui program-program internalisasi yang dilakukan oleh unit Corporate Culture PT KAI kepada seluruh pekerja. Ia juga memastikan pihak manajemen akan mendukung dan menjadi role model dalam implementasi AKHLAK bagi insan KAI.

 

Perusahaan mengaku muatan AKHLAK telah berlaku secara internal melalui materi-materi berupa mata pelajaran di kurikulum pada setiap pelatihan dan pendidikan yang dilaksanakan manajemen, baik secara offline maupun online. KAI juga telah berupaya menyisipkan materi tersebut ke dalam media video, flyer, tabloid intenal, marka-marka, spanduk, serta banner. Secara disiplin, KAI rutin melakukan sidak dan uji kompetensi terhadap pemahaman nilai AKHLAK oleh top management.

 

“Dengan melakukan sidak dan uji kompetensi pemahaman nilai AKHLAK oleh top management, misalnya pimpinan unit kepada para staf,” jelas Joni.

 

Ia yakin, dengan menerapkan pedoman berperilaku yang telah disediakan Kementerian ini akan menimbulkan efek positif bagi seluruh perusahaan BUMN, terutama KAI. Menurutnya benefit yang akan didapatkan oleh PT KAI adalah terwujudnya insan KAI yang mempunyai nilai-nilai yang sesuai dengan amanat pemerintah sesuai dengan lima prioritas Presiden Repubik Indonesia periode 2020 – 2024, yang tertuang di poin satu yakni Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) menuju era teknologi dan informasi. Selain itu, ada pula poin E yaitu pengembangan talenta, yang mana seluruh insan KAI akan mempunyai Core Value yang sama dengan BUMN lain sehingga proses sinergi akan semakin mudah.

 

Sementara terkait adanya satu perubahan, terkadang menimbulkan perubahan lain di berbagai lini, misalnya perombakan target baik jangka pendek maupun jangka panjang. Diakui joni, dengan diputuskannya AKHLAK sebagai nilai inti baru bagi perusahaan tidak mengubah target dan rencana jangka panjang maupun tahunan. Justru tantangannya hadir dari talenta yang dimiliki, apakah implementasi itu bakal efektif dan dijalani seluruh pekerja atau tidak. Ini yang nampaknya harus manajemen tekankan kepada pegawai jika kualitas SDM mau ditingkatkan, terlebih tujuan pengembangan ini tak hanya sebatas untuk persaingan dalam negeri, tetapi juga bisnis internasional.

 

“Tantangan yang dihadapi adalah memastikan penyampaian Core Value AKHLAK kepada seluruh pekerja yang berada di garda terdepan,” jelasnya.

 

Dengan bermodalkan AKHLAK, Kementerian sangat berharap adanya revolusi human capital dalam setiap perusahaan untuk membina para talenta yang dimiliki atau kementerian memakai istilah talent management. Manajemen itu tak hanya mengatur bagaimana perusahaan melaksanakan proses rekrutmen untuk mendapat talenta baru, tetapi juga mengembangkannya selama berkarir di perusahaan. Manajemen talenta itu juga telah dilaksanakan oleh PT KAI dan telah sejalan dengan core values baru. PT KAI menyebutnya sebagai Culture Agent Satria KAI.

 

“Program Culture Agent Satria KAI melakukan pemilihan para culture agent-nya berdasarkan dari SK Budaya Perusahaan PT KAI dan dilakukan di tingkat pusat dan daerah sesuai dengan kewenangannya masing-masing,” jelas Joni.

 

Sedia Menjalin Banyak Kerja Sama

KAI

Selain peningkatan mutu SDM, berdasarkan wawancara BUMNInfo sebelumnya dengan Deputi Bidang SDM Kementerian BUMN Alex Denni, saat ini Kementerian sangat mendorong penguatan sinergisitas antar BUMN, dengan pemerintah maupun pihak swasta. Apalagi Menteri Erick Thohir telah mengelompokkan BUMN berdasarkan klaster sehingga memungkinkan adanya kolaborasi dalam satu klaster. Menurut Alex, keterbukaan dan kemauan untuk berkolaborasi menjadi kunci yang sangat penting dalam membangun dan mengembangkan inovasi dan kreativitas. Hal inilah yang Kementerian dorong kepada BUMN agar lebih terbuka, senang bekerja sama, tidak hanya mengandalkan kemampuan yang dimiliki sendiri, serta terus meningkatkan kompetensi dan kapabilitas diri maupun organisasi.

 

Poin kolaboratif itu diakui Joni sangat beiringan dengan visi PT KAI selama ini, yakni menjadi solusi ekosistem transportasi terbaik untuk Indonesia. Maka manajemen optimis bahwa kolaborasi merupakan wujud implementasi tersebut. Selain itu, didukung juga sesuai dengan misi perusahaan pada poin ketiga yakni untuk memajukan pembangunan nasional melalui kemitraan dengan para pemangku kepentingan.

 

“Termasuk memprakarsai dan melaksanakan pengembangan infrastruktur-infrastruktur penting terkait transportasi,” tambahnya.

 

Beberapa tahun terakhir ini KAI cukup gencar melakukan berbagai kerja sama dengan sejumlah pihak lain. Misalnya, mendirikan konsorsium PT Kereta Cepat Indonesia China bersama PT Wijaya Karya, PT Jasa Marga, dan PT Perkebunan Nasional VIII (PTPN 8) dan konsorsium Tiongkok dalam pengerjaan megaproyek Kereta Cepat Jakarta - Bandung. PT KAI juga menjalin kerja sama untuk pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) di bidang Perkeretaapian dengan Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Perhubungan (BPSDMP)

 

Joni juga mengungkapkan, rencana PT KAI dalam waktu dekat adalah dengan menyelesaikan proyek Transit Oriented Development (TOD) yang bekerja sama dengan sejumlah perusahaan dan pemangku kebijakan terkait di area Jabodetabek.

 

“Contohnya dengan adanya Ground Breaking di Stasiun Pondok Ranji dengan PT KAI dan Jaya Real Property pada tanggal 10 Agustus 2020 lalu,” ungkap Joni.

 

Diimplementasikannya AKHLAK sebagai identitas dan perekat budaya kerja yang mendukung peningkatan kinerja usaha secara berkelanjutan diharapkan manajemen mampu menjadikan insan KAI pribadi yang sesuai nilai-nilai SDM BUMN dalam bertindak untuk mewujudkan tercapainya visi dan misi Perusahaan. Dengan begitu, lanjut Joni, perusahaan akan mampu menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi, akselerator kesejahteraan sosial, dan penyedia talenta untuk bangsa.

 

“Setiap Insan Perusahaan yang memahami, mengimplementasikan, dan menginternalisasikan nilai-nilai Budaya Perusahaan secara sungguh-sungguh, konsisten, dan konsekuen sehingga melahirkan perilaku keseharian yang mendukung terbentuknya membentuk budaya kerja Perusahaan,” harapnya.

 

Ia juga meminta para insan KAI untuk menganggap AKHLAK lebih daripada sekadar budaya perusahaan, tetapi menjadi pedoman hidup masing-masing sehingga individu bisa menjadi role model dan merepresentasikan insan perusahaan yang terbaik. Ia menyemangati dan mendorong semua pihak untuk bersama-sama mencapai visi dan misi dengan berdasarkan AKHLAK.

 

Joni juga berpesan kepada Kementerian BUMN agar terus mengawal implementasi di seluruh BUMN, obyektif dalam pembangunan talenta dan terus mempersiapkan BUMN-BUMN dalam menghadapi tantangan ke depan.

 

“Untuk BUMN sejawat, semangat kolaborasi dan terus bersinergi dalam mewujudkan pembangunan nasional dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia,” tutup Joni.

 



POST TERKAIT