Rusia Jual Minyak Mentah Murah, Inilah Alasan Pertamina Gagal Membelinya!

Jakarta, BUMNInfo | Rusia baru saja kehilangan langganan setia minyak mentah yang sebagian besar berasal dari Uni Eropa. Hal ini disebabkan oleh invasi yang digencarkannya ke Ukraina beberapa bulan lalu. Oleh karena itu, saat ini Rusia sedang mencari pasar baru dengan mulai menawarkan harga minyak mentah yang relatif murah. Tentu saja Indonesia sebagai negara yang ikut terkendala isu naiknya harga minyak mentah dunia sempat merasa tertarik dengan penawaran tersebut. Rencana pembelian ini bahkan telah dibahas saat RDP bersama Komisi VI DPR RI pada Senin (28/3/2022) lalu.

Selain murah, pembelian minyak dari Rusia juga dianggap menarik karena bertepatan dengan revamping Kilang Balongan yang direncanakan rampung pada Mei tahun ini. Dengan adanya revamping tersebut, PT Pertamina (Persero) atau Pertamina menjadi lebih leluasa untuk menerima berbagai jenis minyak mentah. Apalagi sebelumnya beberapa perusahaan kilang minyak dari negara Asia lain, seperti China dan India juga telah melakukan pembelian minyak murah dari Rusia.

Namun, baru-baru ini Vice President Corporate Communication Pertamina Heppy Wulansari menyampaikan jika pembelian minyak mentah murah dari Rusia tidak akan jadi dilakukan.

"Stok di kilang masih mencukupi kebutuhan masyarakat Indonesia, jadi kita optimalkan stok yang ada," ujarnya dikutip dari CNBC Indonesia, Senin (9/5/2022).

Alasan Batalnya Pembelian

Melalui Heppy, Pertamina menyampaikan jika alasan dari gagalnya pembelian minyak Rusia dikarenakan stok bahan bakar minyak (BBM) di kilang masih cukup untuk kebutuhan dalam negeri saat ini. Meski begitu, tidak ada keterangan pasti berapa jumlah stok yang tersedia. Selain itu, pembelian ini juga masih terhalang proses logistik dan pembayaran yang sulit. Apalagi sampai saat ini pihak Indonesia belum melakukan kontak langsung dengan Rusia terkait rencana tersebut.

Bukan hanya masalah teknis, pembelian minyak mentah dari Rusia juga ditakutkan akan membawa dampak geopolitik yang buruk. Memang jika dilakukan secara B2B atau business to business sebenarnya sah-sah saja, namun sangat riskan kecaman mengingat saat ini Rusia sedang diembargo oleh negara-negara Barat. Nekat membeli dapat menimbulkan kesan bahwa Indonesia menentang sanksi dari AS dan NATO pada Rusia.

Kecaman Dalam Negeri

Di sisi lain, aktivis lingkungan dari Greenpeace Indonesia juga mengecam rencana pembelian bahan bakar fosil dari Rusia ini. Direktur Greenpeace Indonesia Leonard Simanjuntak mengatakan jika pembelian ini akan bertolak belakang dengan tindakan mengecam invasi Rusia ke Ukraina yang dilontarkan oleh Presiden Joko Widodo. Logkanya, jika Indonesia membeli minyak dari Rusia maka hal itu sama saja dengan ikut menambah pendapatan negara tersebut yang nantinya mungkin saja digunakan sebagai modal untuk melanjutkan invasi ke Ukraina.

"Seharusnya Indonesia yang memegang G-20 Presidency tahun ini, bersikap lebih proaktif untuk mengupayakan perdamaian, bukannya justru memanfaatkan kesempatan untuk keuntungan jangka pendek, seperti yang diperlihatkan oleh tindakan Pertamina ini," ujar Leonard dikutip dari DW Indonesia.

 

Sumber: cnbcindonesia.com, dw.comwartaekonomi.co.id

Dok: Hops.id 



POST TERKAIT