Kimia Farma Proyeksi Pertumbuhan Kinerja 2020 dan 2021

Jakarta, BUMNInfo | PT Kimia Farma Tbk. memproyeksikan kinerja perseroan pada tahun ini akan lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. Sekretaris Perusahaan Kimia Farma Ganti Winarno mengatakan, perseroan terus berusaha untuk menjaga kinerja dari lini keuangan dengan upaya untuk meningkatkan penjualan, efisiensi beban usaha, dan pengelolaan modal kerja hingga akhir 2020.

 

“Kami memproyeksikan sampai dengan akhir tahun 2020, kinerja perseroan akan meningkat dibandingkan dengan tahun lalu,” ungkap Ganti dikutip dari Bisnis, Rabu (18/11/2020).

 

Sementara itu dari sisi operasional, perusahaan farmasi milik negara itu berkomitmen untuk terus melakukan pemenuhan kebutuhan pemerintah baik dalam hal penanganan Covid-19 maupun kebutuhan pemerintah dan masyarakat dalam hal layanan kesehatan secara general.

 

Terkait dengan kinerja sampai dengan triwulan ketiga tahun 2020, emiten berkode saham KAEF tersebut berhasil membukukan penjualan senilai Rp7,04 triliun atau tumbuh 2,42% secara year-on-year (yoy). Kendati mengumpulkan pendapatan yang besar, laba bersih yang diterima perseoan mengalami penurunan dibandingkan dengan tahun lalu, dengan koreksi sebesar 11,09% yang disebabkan oleh beban bunga yang mengalami peningkatan sebesar 25,39% yoy.

 

Di sisi lain, EBITDA emiten yang berkode saham KAEF itu mengalami pertumbuhan 40,14% dari periode yang sama tahun lalu yakni dari Rp565,13 miliar menjadi Rp791,95 miliar dan laba operasi juga mengalami pertumbuhan sebesar 17,57% menjadi Rp504,54 miliar.

 

Sebelumnya, Kimia Farma menargetkan diri untuk dapat menurunkan nilai impor bahan baku obat (BBO) hingga 25% pada 2024. Makanya, menurut Ganti, pelaksanaan peraturan tingkat komponen dalam negeri (TKDN) industri farmasi menjadi penting. Target penurunan BBO oleh pabrikan perlu dukungan dari pemerintah, dan akan diwujudkan dengan rencana kontribusi KAEF dalam penurunan BBO impor hingga 20,52% menjadi sekitar 74,48% pada 2024 mendatang.

 

"Hal ini merupakan langkah yang dilakukan perseroan untuk mendukung Kemandirian Industri Farmasi Nasional, khususnya dalam industri BBO mengingat ketergantungan impor BBO masih tinggi," tuturnya.

 

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mencatat, Kimia Farma berkontribusi dalam industri BBO dengan PT Kimia Farma Sungwoon Pharmacopia dan kerja sama antara Kimia Farma dan PT Pertamina (Persero) dalam memproduksi parasetamol sebagai penopangnya. Sebagai informasi, industri farmasi nasional masih betah mengimpor sekitar 7.000 ton parasetamol yang bernilai US$32,5 juta. Sementara itu, Ganti belum membuka terang-terangan soal nilai investasi yang akan dikucurkan dalam kerja sama antara pihaknya dengan Pertamina.

 

Sebagai pengingat, pada awal 2020, Kemenperin menerbitkan Peraturan Menteri Perindustrian (Permenperin) No. 16/2020 yang mengatur soal asal tenaga kerja, permesinan, dan asal material memiliki peranan lebih tinggi dibandingkan nilai investasi. Di dalamnya dijelaskan, kandungan bahan baku memiliki bobot 50%, penelitian dan pengembangan sekitar 30%, produksi hingga 15%, dan pengemasan hanya 5%. Kendati begitu, ketentuan tersebut tidak mengatur ketentuan minimum yang harus dipatuhi pabrikan farmasi lokal untuk melakukan proses produksi.

 

"Apabila BBO dalam negeri optimal digunakan, penurunan impor BBO dapat tercapai secara optimal sebagai bagian dari kemandirian industri farmasi nasional dan alat kesehatan," tandasnya.

 

kimia farma-01

 

Sumber: Bisnis (1) (2)

Foto: Istimewa

Infografis: BUMNINFO/Rahma Aulia



POST TERKAIT